BHAGAWAN SRI SATHYA SAI BABA

SAI SAYS: “Seorang bhakta – yang mencintai Tuhan – akan siap untuk menerima segala bentuk ‘cobaan’ dalam kehidupan ini dengan pemikiran bahwa kejadian tersebut adalah demi untuk kebaikannya sendiri. Walaupun Tuhan mungkin tampak seolah-olah sedang “marah”, namun
Om Sri Sairam. Kisah reaktor nuklir jepang yang bocor saya angkat lagi,, …

Belas kasih dan Karunia Bhagavan Sathya Sai Baba – Gempa Jepang dan Pembangkit/instalasi nuklir Fukushima.

Reaktor Fukushima dirancang untuk menahan gempa berkekuatan 8,2 Skala Richter, tapi gempa yang terjadi sebenarnya melampaui (9,0 Skala Richter). Beberapa ahli mengatakan ini adalah keajaiban/mukzijat bahwa pembangkit bertahan dan masih memungkinkan untuk menghindari “Pelelehan-Pelumeran ” dari reaktor. Singkatnya, jika terjadi pelelehan total, bencana bisa mengakibatkan dan menimbulkan peristiwa yang tak terbayangkan, sesuatu skala yang belum pernah disaksikan oleh umat manusia. Namun bagaimana kita ketahui bahwa bencana yang seharusnya terjadi, BATAL; tidak terjadi sama sekali. Hanya Dia sendiri yang tahu! Pada saat ini, saya teringat ramalan Shuka Nadi: “Dia akan menunjukkan bahwa hanya Dia sendiri saja yang dapat mengendalikan kemarahan alam”.

Tidak ada yang tahu mengapa Swami harus meninggalkan tubuh-Nya(wafat) lebih awal atau lebih cepat dari yang diperkirakan. Pastilah ini menjadi bagian dari rencana-Nya selama ini. Yang kita tahu selama ini hanyalah apa yang telah kita lihat dan dengar. Tubuh-Nya semakin lemah dan dengan semua organ vital-Nya gagal satu per satu, sehingga harus ditinggalkan. Sekarang pertanyaan mungkin timbul seperti, mengapa Dia tidak menyembuhkan diri-Nya sendiri. Pertanyaan seperti ini berada di luar jangkauan pemikiran kita dan merupakan bagian dari misteri besar Swami. Satu-satunya jawaban adalah karena Ia menghendaki demikian dan memang sudah demikianlah yang harus terjadi. Tidak ada yang telah terjadi secara kebetulan; Dia adalah ” The Master of all-Penguasa Sejati” yang menguasai semuanya.

[ ... ] Suatu penyakit diambil, dikehendaki, demi untuk meringankan beban seseorang, yang tidak dapat bertahan hidup atau bahkan ditanggung tanpa kecemasan. Inilah salah satu tugas Tuhan yang telah menjelma — yang mencurahkan kasih karunia-Nya bagi para bakta. [ ... ] Aku telah datang dengan tubuh ini untuk menyelamatkan tubuh-tubuh lainnya dari rasa sakit dan penderitaan. Badan ini sejatinya bebas dari penyakit dan rasa sakit; penyakit tidak dapat menyentuhnya ataupun menyerangnya. Inilah kebenaran sejati.

- Sathya Sai Speaks Volume 10 Bab 37.

Sebelumnya, kapanpun Swami telah mengambil karma seorang, Tubuh-Nya telah mengalami berbagai penderitaan meskipun hanya untuk sesaat saja. Tapi kali ini memang Tuhan Maha Pengasih yang selalu mencintai kita memutuskan untuk mengambil karma dari seluruh umat manusia dan membakarnya dengan setiap sel yang ada di dalam tubuh-Nya? Dia hidup sepenuhnya dengan satu misi tunggal yaitu, mengangkat & memimpin umat manusia ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi agar mereka memahami kebenaran hukum spiritual dan menyadari Ketuhanan yang bersemayam dalam dirinya dan pada saat yang sama Swami mengorbankan tubuh-Nya untuk penyebab yang sama juga?

[ ... ] Manusia tak terbilang banyaknya berutang budi dari Alam, dan menikmati fasilitas yang disediakan oleh Alam dengan berbagai cara. Tapi apa rasa terima kasih yang manusia berikan kepada alam? Apa rasa syukur yang ia persembahkan kepada Tuhan? Dia melupakan Tuhan yang merupakan Penyedia dan pemberi dari segala sesuatunya. Inilah sebabnya manusia menjadi mangsa dan korban berbagai kesulitan dan bencana [ ... ]
- Sathya Sai Speaks Volume 21 bab 19

[ ... ] Banyak bencana alam sepenuhnya terjadi akibat perilaku dan ulah manusia. Gempa bumi, letusan gunung berapi, perang, banjir dan bencana kelaparan dan bencana lainnya adalah hasil dari ketidakseimbangan alam yang parah. Namun, ketidakseimbangan itu bersumber pada perilaku manusia. Manusia tidak mengenali hubungan integral antara manusia dan dunia alam [ ... ]
- Sathya Sai Speaks Volume 25 Bab 37

TOKYO-Setahun setelah gempa dan Tsunami mahadahsyat menghantam timur laut Jepang dan memicu kecelakaan nuklir terburuk di dunia dalam seperempat abad, banyak orang Jepang yang menghabiskan akhir pekan mereka sungguh-sungguh berduka atas tragedi itu. Yang Lain telah bergabung dalam demonstrasi jalanan untuk mencoba membentuk masa depan bangsa setelah tahun penuh gejolak dan pencarian jati diri.

Setahun yang lalu, setelah bencana PLTN Jepang, SWAMI MENDERITA SAKIT. Swami mengungkapkan rahasia Leela Ilahi-Nya dengan menyerap dampak terbesar dari gempa bumi tersebut, dan menimpakan pada diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan dunia, dari kemungkinan holocast nuklir dan kehancuran total dunia ini. Cerita ini saya posting setahun yang lalu, sekarang saya tampilkan kembali, setahun setelah bencana pertama..

Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
Menyelamatkan ibu bumi dan dunia seisinya.
24 Jul 2011
Sai Ram

Sejak Bhagawan Baba dirawat di rumah sakit, banyak laporan tentang gempa bumi kecil dan besar sedang terjadi, dari berbagai belahan bumi ini, hampir 3 atau 4 dari gempa bumi itu di siarkan setiap minggu. Saya percaya setiap orang mengikuti berita ini di media, secara teratur.

Sebelumnya, saya telah mengirimkan pesan dalam hal ini, seperti yang diungkapkan kepada saya oleh Bhagawan Baba. Swami sangat terang benderang menjelaskan tentang gejolak dan huru hara yang terjdi dalam rahim Ibu Pertiwi (BHOO GARBHA) dan bagaimana Bhagawan memiliki, karena belas kasih-Nya dan kasih sayang-Nya dan Cinta kasih-Nya dan kemurahan hati-Nya terhadap umat manusia yang telah mempertaruhkan hidup-Nya sendiri.

SWAMI KEMUDIAN MENYATAKAN DENGAN TEGAS DAN TERANG BENDERANG BAHWA IA HARUS MENYERAP DAMPAK BESAR SETELAH EFEK DARI GEMPA BUMI DI JEPANG.

BHAGAWAN JUGA MENGATAKAN BAHWA KARENA RAHMAT-NYA LAH YANG TELAH MEMINIMALKAN DAMPAK DARI EFEK YANG TAK TERPIKIRKAN DARI RADIASI NUKLIR ITU.

Dalam sebuah wawancara, beberapa tahun yang lalu, Bhagawan telah mengatakan kepada Mr. RKKaranjia, Editor “Blitz ‘ bahwa AVATAR ini harus datang untuk menyelamatkan dunia dari bencana nuklir.

Tapi untuk Bhagawan Baba, menyerap radiasi radioaktif yang berasal dari pecahnya beberapa Reaktor Nuklir Jepang, engkau bahkan tidak bisa membayangkannya.
Pengorbanan Bhagawan telah memungkinkan bagi warga Ibu Bumi ini, untuk bernapas bebas dan hidup terus.

Swami sudah menyebutkan bahwa karena keserakahan orang-orang, yang telah membuat mereka untuk mengeksploitasi sumber daya mineral dan minyak bumi lainnya, menyebabkan gejolak dan kekacauan di Bhoo garbha (rahim Ibu Pertiwi).

Kapan para penguasa di dunia akan bangun dan mencatat risiko mereka menyebabkan untuk generasi masa depan orang-orang duniawi? Apakah mereka akan mulai berpikir dan mulai berencana untuk menghemat sumber daya berharga dengan konsumsi yang bijaksana?

kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan kita, Sai untuk terus melindungi kemanusiaan dan umat manusia
Samastha Loka sukhino Bhavanthu!

Cerita ini di posting oleh MUMBAI SRINIVASAN. Terjemahan bebas oleh purnawarman.

“ Tidak lama lagi, akan ada PENGAKUAN UNIVERSAL kepada Avatar Sai. Sai yang merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akan mengejewatahkan diri ke dalam jagat raya ini. Mereka yang menolak, mencela, menjelek-jelekkan Avatar sebelumnya, akan menerima dan menyambut BELIAU. Mereka yang mengejek dan mencela bakta-bakta Baba, juga akan menyadari kesalahan mereka dan ikut bergabung dalam keluarga Sai. Inilah MUKJIJAT BESAR KALIYUGA. Akan ada HISTERIA MASSAL menyambut AVATAR SAI. Dan akan segera terjadi, tidak lama lagi. PEMUJAAN AVATAR SAI AKAN SEGERA MENJADI UNIVERSAL. Kemanapun anda pergi, yang anda dengar hanya SAI, SAI, SAI.

Sekali lagi akan ada HISTERIA MASSSAL, jeritan-jeritan kehabahagiaan, tangisan yang membahana ke seluruh pelosok bumi, karena KERINDUAN yang besar pada AVATAR SAI, yang merupakan penjelmaan langsung dari Maha Parabrahman, TUHAN yang berpribadi dan sekaligus juga tidak berpribadi, saguna brahman dan nirguna Brahman.

Ya..HISTERIA MASSAL akan mengguncang dunia…jagat raya, dan para dewa, rishi, yogi akan menyambut SATYA YUGA dengan berkat AVATAR.

Kalau tidak ada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba,kita semua sudah MAMPUS, alias TEWAS,,,kena radiasi nuklir…sairam

Tidak perlu khawatir tentang apa pun juga. Apapun yang dialami, apapun yang terjadi, ketahuilah, Avatar ini menghendakinya demikian. Tidak ada kekuatan di bumi, yang dapat menunda Misi Avatar yang telah datang menjelma ke bumi ini.

- Sanathana Sarathi, Oktober 1996, Back Cover.SAI SAYS: “Para bijak mulia di masa lalu, melayani sesama mereka dengan penuh simpati, meletakkan aturan, peraturan, batasan, dan petunjuk untuk kehidupan dan perilaku sehari-hari, sehingga tangan dan otak, naluri dan dorongan tidak bisa berubah ke yang lainnya, tetapi menuju ke arah ideal Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, dan Cinta-kasih. Mereka menyatakan bahwa setiap tindakan harus ditimbang dalam keseimbangan dan dilaksanakan hanya jika hal tersebut dapat memurnikan emosi dan nafsu, tetapi jika melanggar maka harus dibuang jauh-jauh. Bhaavashuddhi (pemurnian mental) harus menjadi buah setiap tindakan. Pemujaan pada patung, pelaksanaan ritual, nazar dan puasa, festival dan hari-hari suci – semua ini dirancang untuk menjinakkan keliaran dan melatih seseorang untuk menapaki jalan langsung menuju ke realisasi diri.”

SAI SAYS: "Para bijak mulia di masa lalu, melayani sesama mereka dengan penuh simpati, meletakkan aturan, peraturan, batasan, dan petunjuk untuk kehidupan dan perilaku sehari-hari, sehingga tangan dan otak, naluri dan dorongan tidak bisa berubah ke yang lainnya, tetapi menuju ke arah ideal Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, dan Cinta-kasih. Mereka menyatakan bahwa setiap tindakan harus ditimbang dalam keseimbangan dan dilaksanakan hanya jika hal tersebut dapat memurnikan emosi dan nafsu, tetapi jika melanggar maka harus dibuang jauh-jauh. Bhaavashuddhi (pemurnian mental) harus menjadi buah setiap tindakan. Pemujaan pada patung, pelaksanaan ritual, nazar dan  puasa, festival dan hari-hari suci - semua ini dirancang untuk menjinakkan keliaran dan melatih seseorang untuk menapaki jalan langsung menuju ke realisasi diri."

SaiYouth Indonesia

SAI SAYS: “Pertapa sejati adalah mereka yang dalam hidupnya mematuhi aturan-aturan (disiplin) dan melakukan pembatasan keinginan seperti yang telah ditentukan. Pikiran adalah yang terpenting dari ketiga instrumen batin pada manusia. Kita harus melindungi pikiran agar kemelekatan, nafsu, serta kegembiraan yang berlebihan tidak masuk ke dalamnya. Ini adalah sifat yang alami dari pikiran. Gelombang dahsyat dalam pikiran adalah nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati; ini adalah enam musuh dalam diri kita. Nafsu dan amarah merupakan penyebab dari timbulnya keempat hal yang lainnya. Untuk melepaskan diri kita dari musuh-musuh yang ada dalam diri kita dan untuk menuju ke jalan spiritual, kita harus menjalankan praktek spiritual.”
SAI SAYS: "Pertapa sejati adalah mereka yang dalam hidupnya mematuhi aturan-aturan (disiplin) dan melakukan pembatasan keinginan seperti yang telah ditentukan. Pikiran adalah yang terpenting dari ketiga instrumen batin pada manusia. Kita harus melindungi pikiran agar kemelekatan, nafsu, serta kegembiraan yang berlebihan tidak masuk ke dalamnya. Ini adalah sifat yang alami dari pikiran. Gelombang dahsyat dalam pikiran adalah nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati; ini adalah enam musuh dalam diri kita. Nafsu dan amarah merupakan penyebab dari timbulnya keempat hal yang lainnya. Untuk melepaskan diri kita dari musuh-musuh yang ada dalam diri kita dan untuk menuju ke jalan spiritual, kita harus menjalankan praktek spiritual."
“}” data-reactid=”.r[3qp0e]“>Suka ·  · Bagikan · Minggu pukul 5:45 · 

welas-asih merupakan unsur landasannya. Oleh sebab itu, janganlah engkau justru merasa senang apabila engkau terbebaskan dari cobaan. Sebab cobaan tersebut juga merupakan jalan yang akan menuntunmu kepada-Nya. “Kemarahan”-Nya semata-mata bertujuan untuk melindungimu. Bhakta sejati menyadari kebenaran ini dan mereka siap untuk menerima apapun juga yang akan terjadi dalam kehidupannya demi untuk kebaikannya sendiri.”

SAI SAYS: "Seorang bhakta - yang mencintai Tuhan - akan siap untuk menerima segala bentuk 'cobaan' dalam kehidupan ini dengan pemikiran bahwa kejadian tersebut adalah demi untuk kebaikannya sendiri. Walaupun Tuhan mungkin tampak seolah-olah sedang "marah", namun welas-asih merupakan unsur landasannya. Oleh sebab itu, janganlah engkau justru merasa senang apabila engkau terbebaskan dari cobaan. Sebab cobaan tersebut juga merupakan jalan yang akan menuntunmu kepada-Nya. "Kemarahan"-Nya semata-mata bertujuan untuk melindungimu. Bhakta sejati menyadari kebenaran ini dan mereka siap untuk menerima apapun juga yang akan terjadi dalam kehidupannya demi untuk kebaikannya sendiri."

Bhagawan lovingly gives some practical and effective tips to overcome grief and sorrow.Today’s Sai Inspires from Prasanthi Nilayam Monday, June 10, 2013All of you are already spiritual aspirants (Sadhakas) or bound to be one soon! It is said, Moksha lies in the sukshma – Liberation can be achieved by subtle means. Few important steps for you: Treat others in the same way, you would like them to treat you. Never brood over the past; when grief overpowers you, do not recollect similar incidents from your past to add to your grief. Recollect, rather, incidents when you were happy! Draw consolation and strength from them. Raise yourself above the surging waters of sorrow. Women are called ‘weak’ because they yield to anger and sorrow much more easily than men; so I would ask them to take extra pains to overcome these two. Namasmarana (chanting the Lord’s name) is the best antidote for this and if you take it up, the Lord will come to your rescueLihat Selengkapnya

Bhagawan lovingly gives some practical and effective tips to overcome grief and sorrow.</p>
<p>Today’s Sai Inspires from Prasanthi Nilayam Monday, June 10, 2013</p>
<p>All of you are already spiritual aspirants (Sadhakas) or bound to be one soon! It is said, Moksha lies in the sukshma - Liberation can be achieved by subtle means. Few important steps for you: Treat others in the same way, you would like them to treat you. Never brood over the past; when grief overpowers you, do not recollect similar incidents from your past to add to your grief. Recollect, rather, incidents when you were happy! Draw consolation and strength from them. Raise yourself above the surging waters of sorrow. Women are called ‘weak’ because they yield to anger and sorrow much more easily than men; so I would ask them to take extra pains to overcome these two. Namasmarana (chanting the Lord’s name) is the best antidote for this and if you take it up, the Lord will come to your rescue and instill the faith that everything is God's Will and teach that you have no right to exult or despair.</p>
<p>-Divine Discourse, August 2, 1958.</p>
<p>Destroy your ego, you will be liberated! - BABA.</p>
<p>Read full discourse: http://www.sssbpt.info/ssspeaks/volume01/sss01-12.pdf</p>
<p>Get 'Thought for the day' in your email every day. Subscribe to our newsletter http://krishna.radiosai.org/subscribe/?p=subscribe (Also called Sai Inspires from Prasanthi Nilayam, a free daily Inspirational Email service from Radio Sai)

Bhagawan penuh kasih memberikan beberapa tips praktis dan efektif untuk mengatasi kesedihan dan penderitaan.
Sai Hari Menginspirasi dari Prashanti Nilayam Senin, Juni 10, 2013
Semua Anda sudah aspiran spiritual (sadhaka) atau terikat menjadi salah satu segera! Dikatakan, Moksha terletak pada sukshma – Pembebasan dapat dicapai dengan cara yang halus. Beberapa langkah penting bagi Anda: Perlakukan orang lain dengan cara yang sama, Anda ingin mereka memperlakukan Anda. Jangan merenung masa lalu, ketika mengalahkan kesedihan Anda, tidak ingat insiden serupa dari masa lalu Anda untuk menambah kesedihan Anda. Mengingat kembali, bukan, insiden ketika Anda bahagia! Menggambar penghiburan dan kekuatan dari mereka. Angkat diri Anda di atas air banjir kesedihan. Perempuan disebut ‘lemah’ karena mereka menghasilkan kemarahan dan kesedihan jauh lebih mudah daripada laki-laki, jadi saya akan meminta mereka untuk mengambil rasa sakit ekstra untuk mengatasi kedua. Namasmarana (melantunkan nama Tuhan) adalah penangkal terbaik untuk ini dan jika Anda mengambil itu, Tuhan akan datang untuk menyelamatkan Anda … Lihat Selengkapnya
Bhagawan penuh kasih memberikan beberapa tips praktis dan efektif untuk mengatasi kesedihan dan penderitaan. Sai Hari Menginspirasi dari Prashanti Nilayam Senin, Juni 10, 2013 Kalian semua sudah aspiran spiritual (sadhaka) atau terikat menjadi salah satu segera! Dikatakan, Moksha terletak pada sukshma – Pembebasan dapat dicapai dengan cara yang halus. Beberapa langkah penting bagi Anda: Perlakukan orang lain dengan cara yang sama, Anda ingin mereka memperlakukan Anda. Jangan merenung masa lalu, ketika mengalahkan kesedihan Anda, tidak ingat insiden serupa dari masa lalu Anda untuk menambah kesedihan Anda. Mengingat kembali, bukan, insiden ketika Anda bahagia! Menggambar penghiburan dan kekuatan dari mereka. Angkat diri Anda di atas air banjir kesedihan. Perempuan disebut ‘lemah’ karena mereka menghasilkan kemarahan dan kesedihan jauh lebih mudah daripada laki-laki, jadi saya akan meminta mereka untuk mengambil rasa sakit ekstra untuk mengatasi kedua. Namasmarana (melantunkan nama Tuhan) adalah penangkal terbaik untuk ini dan jika Anda mengambil itu, Tuhan akan datang untuk menyelamatkan Anda dan menanamkan iman bahwa segala sesuatu adalah milik Allah akan dan mengajarkan bahwa Anda tidak punya hak untuk bermegah atau putus asa. -Ilahi Wacana, 2 Agustus 1958. Hancurkan ego Anda, Anda akan dibebaskan! - BABA. Baca wacana penuh: http://www.sssbpt.info/ssspeaks/volume01/sss01-12.pdf Dapatkan ‘Pemikiran untuk hari’ dalam email Anda setiap hari. Berlangganan http://krishna.radiosai.org/subscribe/?p=subscribe newsletter kami (Juga disebut Sai Menginspirasi dari Prashanti Nilayam, harian layanan Email Inspirational gratis dari Radio Sai)
Swami sings – 9Sathya Sai is the name that reverberates
Whichever is the place, city or town or village; Sathya Sai is the name that echoes and re-echoes
Whatever is the man, wherever He is
From His mouth emerges the name of Sai Rama
Whatever is the area wherever you see
Sathya Sai is the form.
Sathya Sai responds to every Bhajan sung every day
The name has spread all over the world
The most popular name that is recited with devotion
That gives courage and strength to those singing the name;
Why the Lord residing at Parthi
Won’t care for you, if you cling to Him.Baba
Swami sings - 9</p>
<p>Sathya Sai is the name that reverberates<br />
Whichever is the place, city or town or village;</p>
<p>Sathya Sai is the name that echoes and re-echoes<br />
Whatever is the man, wherever He is<br />
From His mouth emerges the name of Sai Rama<br />
Whatever is the area wherever you see<br />
Sathya Sai is the form.</p>
<p>Sathya Sai responds to every Bhajan sung every day<br />
The name has spread all over the world<br />
The most popular name that is recited with devotion<br />
That gives courage and strength to those singing the  name;<br />
Why the Lord residing at Parthi<br />
Won't care for you, if you cling to Him.</p>
<p>Baba

What is a simple litmus test to understand if we are progressing on the spiritual path? Bhagawan gives us a practical tip today.Today’s Sai Inspires from Prasanthi Nilayam Sunday, May 26, 2013The first step in Self-Enquiry (Athma Vichara) is the practice of the truth that whatever gives you pain, gives pain to others and whatever gives you joy, gives joy to others. So do unto others as you would like them do unto you; desist from any act in relation to others, which, if done by them will cause you pain. Thus, a kind of reciprocal relationship will grow between you and others and gradually you reach the stage when your heart thrills with joy when others are joyful and shudders in pain when others are sad. This is not the kind of affection towards those who are dear to you or those who are your kith and kin. This sharing of joy and grief is automatic, immediate, and universal. It is a sign of great spiritual advance, the wave knows that it is p…Lihat Selengkapnya
What is a simple litmus test to understand if we are progressing on the spiritual path? Bhagawan gives us a practical tip today.</p>
<p>Today’s Sai Inspires from Prasanthi Nilayam Sunday, May 26, 2013</p>
<p>The first step in Self-Enquiry (Athma Vichara) is the practice of the truth that whatever gives you pain, gives pain to others and whatever gives you joy, gives joy to others. So do unto others as you would like them do unto you; desist from any act in relation to others, which, if done by them will cause you pain. Thus, a kind of reciprocal relationship will grow between you and others and gradually you reach the stage when your heart thrills with joy when others are joyful and shudders in pain when others are sad. This is not the kind of affection towards those who are dear to you or those who are your kith and kin. This sharing of joy and grief is automatic, immediate, and universal. It is a sign of great spiritual advance, the wave knows that it is part of the ocean; all the waves are but temporary manifestations of the sea and with the same taste of the ocean itself.</p>
<p>- Divine Discourse, July 25, 1958.</p>
<p>Every action that is done should be preceded by an enquiry as to whether it will lead to good or bad results. - BABA</p>
<p>Read full discourse: http://www.sssbpt.info/ssspeaks/volume01/sss01-11.pdf</p>
<p>Get 'Thought for the day' in your email every day. Subscribe to our newsletter http://krishna.radiosai.org/subscribe/?p=subscribe (Also called Sai Inspires from Prasanthi Nilayam, a free daily Inspirational Email service from Radio Sai)

Radio Sai

“Do not pollute your mind with worldly desires. You have attained this human birth as a result of meritorious deeds done in past lives. Do not misuse it. Human life is highly valuable. Keep up its value by practising human values. This was the teaching of Buddha.People aspire to attain Nirvana. In order to attain Nirvana, one should have a pure heart. True Nirvana lies in having love for God, fear of sin and morality in society.”-Divine Discourse, Buddha Purnima, 7 May 2001, Brindavan
"Do not pollute your mind with worldly desires. You have attained this human birth as a result of meritorious deeds done in past lives. Do not misuse it. Human life is highly valuable. Keep up its value by practising human values. This was the teaching of Buddha.</p>
<p>People aspire to attain Nirvana. In order to attain Nirvana, one should have a pure heart. True Nirvana lies in having love for God, fear of sin and morality in society."</p>
<p>-Divine Discourse, Buddha Purnima, 7 May 2001, Brindavan
“Kehidupan manusia dilanda dengan pasang dan surut, suka dan duka. Pengalaman-pengalaman ini dimaksudkan sebagai penunjuk arah bagi manusia. Kehidupan akan terasa hambar jika tidak ada cobaan dan kesulitan. Masalah dalam kehidupan akan membawa keluar nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia. Engkau tidak bisa mendapatkan sari tebu tanpa menghancurkannya. Engkau tidak dapat meningkatkan kecemerlangan berlian tanpa memotong dan membentuknya menjadi banyak sudut. Seseorang harus melepaskan kepicikan-nya dan mengembangkan pikiran yang luas dengan mengembangkan cinta-kasih. Hanya ketika engkau mengalami berbagai kesulitan, engkau dapat mengalami kebahagiaan menyadari ketuhanan menyatu dalam diri (Self-realization). Oleh karena itu, kesulitan harus disambut dan harus diatasi untuk mengalami ketuhanan (Divinity).”
==========
(BHAGAVAN SRI SATHYA SAI BABA) — di Prashanti Nilayam, Puttaparth
SAI SAYS: “Ketika rumah terbakar, engkau akan berlari dengan tergesa-gesa untuk mendapatkan bantuan dan untuk memadamkan api. Tetapi engkau tidak menyadari bahwa api berkobar di dalam dirimu jauh lebih dahsyat dan bisa melahap/menelan/menghancurkan semuanya. Engkau harus mengambil tugas sebagai pemadam kebakaran dengan sebenar-benarnya dan tidak pernah beristirahat sampai api tersebut dipadamkan. Mulailah pertarungan saat ini, yaitu melakukan Sadhana, upaya-upaya spiritual. Mulailah melayani orang tua, guru, sesepuh, orang miskin, orang sakit dan orang yang menderita. Janganlah mendorong perpecahan dan perselisihan, tetapi sebaliknya engkau hendaknya meningkatkan cinta-kasih, kerukunan, kerjasama dan persaudaraan. Kalian semua berada dalam keadaan perbudakan indera dan dunia objektif. Engkau hendaknya mencari pergaulan yang baik, berjuang di jalan spiritual, dan senantiasa merindukan untuk berjalan di jalan spiritual, dengan demikian engkau akan mencapai kedamaian dan harmoni.”
SAI SAYS: "Ketika rumah terbakar, engkau akan berlari dengan tergesa-gesa untuk mendapatkan bantuan dan untuk memadamkan api. Tetapi engkau tidak menyadari bahwa api berkobar di dalam dirimu jauh lebih dahsyat dan bisa melahap/menelan/menghancurkan semuanya. Engkau harus mengambil tugas sebagai pemadam kebakaran dengan sebenar-benarnya dan tidak pernah beristirahat sampai api tersebut dipadamkan. Mulailah pertarungan saat ini, yaitu melakukan Sadhana, upaya-upaya spiritual. Mulailah melayani orang tua, guru, sesepuh, orang miskin, orang sakit dan orang yang menderita. Janganlah mendorong perpecahan dan perselisihan, tetapi sebaliknya engkau hendaknya meningkatkan cinta-kasih, kerukunan, kerjasama dan persaudaraan. Kalian semua berada dalam keadaan perbudakan  indera dan dunia objektif. Engkau hendaknya mencari pergaulan yang baik, berjuang di jalan spiritual, dan senantiasa merindukan untuk berjalan di jalan spiritual, dengan demikian engkau akan mencapai kedamaian dan harmoni."

day’s Sai Inspires from Prasanthi Nilayam Sunday, March 24, 2013

The system of education, which promotes an attitude of contempt towards learning that does not yield monetary benefits, is largely responsible for the neglect of great scriptures and saints. Another cause is the general decline in the moral standards of living. When all are sliding down the easy path of flippancy, those who advise against it and warn about the inevitable disaster are ignored and laughed at. Sunk in the search of pleasures and cheap recreation, people become deaf to the counsels of the ancient and calls of the sublime. Scriptures are like traffic signals in a busy junction. If the signals are removed, the journey is rendered slow and difficult, filled with accidents and chaos. We cannot afford to destroy them. We have to restore them for the well-being of humanity.
- Sathya Sai Speaks, Apr 13 1964.

There is no nobler quality in the world than love. It is wisdom. It is righteousness. It is wealth. It is Truth.-BABA

Read full discourse: http://www.sssbpt.info/ssspeaks/volume04/sss04-15.pdf

Get ‘Thought for the day’ in your email every day. Subscribe to our newsletter http://krishna.radiosai.org/subscribe/?p=subscribe (Also called Sai Inspires from Prasanthi Nilayam, a free daily Inspirational Email service from Radio Sai)

SWhat are the causes for the fall in popularity of ancient texts and scriptures and why is it important to restore them? Bhagawan explains to us today. web:http://sai-baba.es.tl/Descripción de la empresa:EL web site de Sai Baba.
Aquí encontraras todo sobre Sai Baba frases,videos,conferencias,galería,bhajans,buscador,
radio,experiencias y muchas cosas más.Misión:Que más gente conosca a Sai Baba y que la gente que ya lo conoce tenga un buen rato en la página con todos sus servicios.Productos:Frases,videos,conferencias,galería,bhajans,buscador,
radio,experiencias y muchas cosas más

“I” is most wonderful and powerful alphabet having immense value of oneness and it was gifted by the God himself. It is filled with positive energy and with lots of pure love which is selfless and more than the above this alphabet gives lots of confidence along with faith and trust on God. “I” is nothing but the God himself and the one without second and the Lord of Universe and the one who is residing in our hearts who takes all forms as Avatars to reinstate the faith in God. As the Yugas passing on and passing on as kaliyuga was approaching, the God gifted most loving “I” was slowly misguided to lose fame and name as it was attached by many things the first and most important was the mind that became monkey in the hand of senses and then finally slave to the senses. These senses are Ego, Pride, Jealousy, Hatred and violence and these senses caught hold of “I” and changed the nature of the gift that was entrusted on the humanity to be selfless with love as an act from heart. Whoever says “I” in Kaliyuga it only represents the pride and ego and nothing else as the “I” became very volatile and lost all its charm and importance of being as one the self that is always connected to the Parmatama the Lord of Universe? More than that, if anybody says “I”, people around him get worried and see him differently as it is representing the selfish and self centered person. This type of “I” also increase the distance from the God and finally gives a feeling that there is no God. This type of “I” is not only creates deep problems but it is also dangerous to the society as this transform the individual to become demon and it spreads like virus and infects all. This Virus of “I” before it becomes very complicated and gets in to deeper levels of the minds as to control the entire world the God descend on to the earth as Avatar in human form to knock off the “I” and to transform the same to “we” @ is “I” and the God are the one. Nobody should allow the “I” that is filled with Ego, Pride, Jealousy, Hatred and Violence and allow only “I” that is represents “we” that is I and God as one and God within “I”. There is one Mantra the God has given to the entire humanity to get protected from “I” which represents the Ego, Pride, Jealously, Hatred and Violence, it is nothing but chanting the name of the God in which ever form the individual likes. Constant contemplation on the name of the God with an act of selfless love from heart as Namasmran will automatically protect the humanity from the “I” which is attached with the senses that made mind slave. God expects from all of us to be “I” that is attached to the God as “one” the Ultimate “one” who is beyond space & time, Mother of Universe and the resident of our hearts as driving force and source of everything.This Message is given by Mother Sai,

Svami Says : A few elders in Brindavan who revelled in scandalizing Krishna set an ordeal for Radha to test her virtue. Radha was asked to fetch water in a pot from Yamuna to home. Radha, with full faith in Krishna, was immersed in the consciousness of the Lord, that she never bothered to know the condition of the pot. The mud pot she was given had a hundred holes. She immersed it in the river, repeating the name of Krishna as usual, with every intake of the breath and every exhalation. Every time the name Krishna was uttered, a hole was covered, so that by the time the pot was full, it was whole! That was the measure of her faith. Faith can affect even inanimate objects.

Beberapa sesepuh di Brindavan yang menyukai candaan Sri Krishna, suatu ketika memberikan cobaan yang berat pada Radha untuk menguji kebaikannya. Radha diminta untuk mengambil air dengan jambangan dari sungai Yamuna lalu membawanya ke rumah. Radha, dengan keyakinan penuh pada Sri Krishna, telah tenggelam dalam kesadaran Tuhan, dia tidak peduli pada kondisi jambangan yang dibawa, padahal jambangan tersebut memiliki seratus lubang. Dia tenggelam dalam sungai, mengulangi nama Sri Krishna pada setiap hembusan napasnya. Setiap kali nama Sri Krishna diucapkan, lubang itu tertutup, sehingga pada waktunya, jambangan itu penuh! Itulah ukuran keyakinannya. Keyakinan dapat mempengaruhi bahkan benda mati sekalipun.

-BABA

Stop censorship